Rabu, 03 Februari 2010

SINAR-X

Rontgen pertama kali tahun 1895 menemukan gejala kebalikan dari efek foto listrik yang disebut sinar-x pada anoda tabung sinar katoda (CRT = Cathode Ray Tube ) bila beda potensial VKA ± 54 kilovolt. Jika beda potensial VKA ±54 Kvolt elektron dengan energi kinetik yang cukup besar dan menumbuk atom permukaan anoda dengan momentum yang besar sekali sehingga memungkinkan terjadinya getar atom. Akibat getar atom elektron dapat berpindah orbital dari orbital luar ke orbital lebih dalam sambil memancarkan radiasi foton sesuai dengan frekuensi sinar-x dan dinamakan sinar-x. Gejala sinar-x dapat dimisalkan pada tumbukan keras antara dua buah benda keras, misalnya: kita memukulkan palu ke paku dengan kuat maka akan tampak percikan bunga api.

Tahun 1899 Huge dan Wind mengamati difraksi sinar-x dengan celah tunggal, bahwa sinar-x merupakan suatu gelombang dengan panjang gelombang sekitar 1 Angstrom, termasuk dalam urutan spektrum sinar gelombang elektromagnetik.

Tahun 1906 Barkla membuktikan bahwa sinar-x merupakan gelombang transversal karena menunjukkan gejala polarisasi dan menghambur pada berbagai bahan materi.

Jadi sinar-x didefinisikan sebagai sinar yang timbul karena tumbukan atom bermomentum tinggi atau getar atom yang memungkinkan elektron berpindah orbital.

Sifat-sifat sinar-x, adalah sebagai berikut:

- merambat lurus

- bukan partikel tetapi gelombang elektromagnetik

- tidak bermuatan listrik

- memiliki daya tembus yang sangat kuat

- dapat mengalami reaksi kimia seperti merusak film

- dapat dipolarisasi dan difraksi

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar